sarasHijra

5 Bekal Persiapkan Anak Hadapi Tantangan Akhir Zaman, Yuk Cari Tau !

2 komentar

 

Mengapa Harus Persiapkan Anak Hadapi Tantangan Akhir Zaman

Bismillahirrahmanirrahim

Waw judulnya ngeri nih, kayanya bahasannya berat ya Makkk.

Hmm..berat ringannya relatif ya, tergantung pemahaman kita pentingnya menyiapkan kehidupan setelah mati.  Sebagai umat muslim yang percaya akan ada hari akhir maka sebelum datangnya hari akhir itu akan muncul tanda-tanda akhir zaman. Diantaranya adalah muncul banyak bencana alam, adanya kaum Nabi Luth yaitu penyuka sesama jenis yang dilaknat Allah, banyak kerusakan moral akibat pornografi juga pornoaksi, budaya hedonisme yang cinta dunia dan takut mati. Naudzubillah himindzalik, dampaknya akan menjauhkan dari fitrah juga ketentraman hati dan bahaya terbesarnya adalah bisa mendatangkan murka Allah.

Jadi bila tak disiapkan dari sekarang, sama aja mestinya kita bisa lebih cerdas dalam hidup yaitu yang mempersiapkan mati dengan bekal amambiarkan diri kita maju perang tanpa senjata. Kalah dan mati sia-sia. Sementara kita adalah makhluk terbaik yang Allah ciptakan di muka bumi ini yang punya akal dan hati nurani. Melan terbaik.

So, apa aja ya bekal untuk persiapkan anak hadapi tantangan akhir zaman? Kita aja yang jadi orang tua gak yakin dah punya bekal cukup huhu..

Makanya yuk sama-sama cermati tulisan emak saras berikut ini, siapa tau bestie punya pengalaman yang sama dan bisa nambahin masukan di kolom komentar dalam persiapkan anak hadapi tantangan akhir zaman..


Darimana Dapat Ilmu Persiapkan Anak Hadapi Tantangan Akhir Zaman


Komunitas Yuk Jos Semarang Chapter sebagai Penyelenggara Matapena

Ceritanya emak saras berada dalam  komunitas Yuk JOS (Jadi Orang tua Soleh) Chapter Semarang merasa perlu ilmu untuk bahasan kita kali ini. Makanya emak bersama teman-teman komunitas termasuk coach Marita ngadain acara keren dengan mengundang Abah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari. Acara keren yang berada dalam setingan Matapena ini kami adakan 1 hari sebelum PSPA. Peserta Matapena adalah alumni PSPA.

Apa itu Matapena dan apa lagi itu PSPA?

Matapena alias majelis tsaqofah pengasuhan anak adalah majelis yang khusus membahas 1 tema pengasuhan anak. Sedangkan PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak)  dibuat oleh Abah Ihsan sebagai Direktur Auladi Parenting School untuk para calon orang tua dan orang tua itu sendiri. PSPA adalah kelas parenting berbayar durasi 2 hari yang membuka mata dan hati kami para orang tua tentang pentingnya memiliki ilmu dalam mengasuh anak.

Nah, Matapena kali ini mengusung tema sesuai judul blog emak kali ini. Makanya emak pun tertarik mengikat ilmu di Matapena dengan menuliskannya kembali versi emak saras.

Oiya, alhamdulillah alumni PSPA yang berminat mengikuti Matapena  membludak dari awalnya hanya dibuka kuota 30 orang bisa sampai 80 orang lho! 

Berarti banyak orang tua merasakan kebutuhan untuk meng-up date ilmu pengasuhan anak. Ma syaa Alah tabarakallah, semoga dengan makin banyaknya ortu yang peduli besarnya tantangan pengasuhan akhir zaman dapat menjadi sebab pertolongan Allah turun ke bumi ya. Aamiin.



Persiapkan Anak Hadapi Tantangan Akhir Zaman

Pendahuluan

Dengan banyaknya fakta di lapangan, banyak anak yang tidak diurus ortunya. Mungkin diurus tapi hanya fisiknya saja. Diberikan rumah tinggal, baju, dibelikan cukup makan, disekolahkan. Namun para ortu kebanyakan terlupa mengisi jiwanya. Terlewat mengisi ruhiyahnya. Belum sempat ajarkan kemandirian dan bertindak sebagai layaknya orang dewasa yang bertanggung jawab atas sikap dan perilakunya. Sehingga banyak anak lahir tanpa masa depan, jiwa yang labil, menambah deretan pengangguran dan masalah kemasyarakatan lain.


Persiapkan Diri Sendiri sebagai Orang Tua




Sebelum kita menyiapkan bekal ke anak, diri sendirilah yang harus dipersiapkan. Abah Ihsan menceritakan dalam pembukaan Matapena Jum’at, 5 Agustus 2022 lalu bahwa bila Abah tidak menjadi nara sumber acara parenting maka akan sama dengan ortu kebanyakan. Yaitu ortu yang gak belajar, yang gak up date ilmu.

Sebagai ortu yang paham anak adalah amanah yang nanti dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Sang Pemilik Anak-anak kita, mari kuatkan azzam untuk benar-benar mengurus anak. Niatkan betul untuk mengurus anak. Bukan sekedar pengen !

Jelas hal ini akan mengorbankan pekerjaan, waktu, tenaga, dan pikiran. Milikilah visi dan misi dalam mengasuh anak. Hal ini akan menjadi panduan dalam membuat peta pengasuhan anak. Lalu ciptakan waktu khusus untuk bercerita pada anak usia dini hingga SD. Sedangkan untuk anak pra baligh, baligh dan pra dewasa, sediakan waktu khusus untuk diskusi mengajaknya berpikir kritis dan analitis.


5 Bekal Persiapkan Anak Hadapi Tantangan Akhir Zaman




Bekal tersebut adalah mempersiapkan anak mengalami perubahan :

1.       Pada tubuhnya

Ciptakan momen santai untuk bercerita kepada anak bahwa tubuhnya adalah pemberian Allah yang sangat sempurna. Dengan tubuh yang sehat anak bisa beraktifitas dan beribadah dengan baik.

Usia SD kelas 1 – 2 bisa diajak cerita apa saja bagian tubuhnya. Ada perbedaan bentuk dan fungsi pada tubuh laki-laki dan perempuan. Alat bantu cerita seperti buku, boneka, manekin bisa dipakai untuk menunjukkan bagian tubuh yang akan berkembang/berubah.

Anak-anak juga dikenalkan dengan bagian yang harus tertutup seperti daerah kemaluan. Prinsipnya daerah kemaluan tidak untuk dipamerkan, harus disembunyikan. Daerah ini juga tidak untuk dibicarakan pada sembarang orang. Harus dengan orang tuanya.

2.       Fase Baligh

Ceritakan pula mereka akan mengalami fase baligh. Fase dimana ada perubahan tubuh di bagian tertentu dan perubahan hormon yang membuat emosi kadang meledak-ledak.

Bicara fase ini umumnya nyerempet ke bahasan hubungan seksual.

Seksualitas memang tabu, sebagai ortu pahami prinsip berikut.

Seksualitas bukan tidak untuk dibicarakan tapi tidak boleh membicarakan pada sembarang orang.

Bagaimanapun juga anak kita akan terpapar hal itu.

Semakin kecil umurnya, makin terjaga pikirannya dari pertanyaan yang aneh-aneh.

3.       Merasakan jatuh cinta

Pada anak usia-usia pra baligh dapat kita ceritakan mereka akan merasakan jatuh cinta. Bisa membahas bagian otak yang terlibat saat jatuh cinta. Dimana otak pusat berpikir yang biasa mengolah logika akan non aktif dan otak bagian emosi akan lebih aktif. Sehingga bila diantara anak perempuan kita “ditembak” alias disukai lawan jenisnya maka bisa membutakan rasionalitasnya.

Dorongan seksual akan lebih cepat muncul apabila anak terbiasa terpapar tayangan, tontonan yang berbumbu percintaan.

Apalagi pada anak yang baligh-nya lebih cepat dari usia normal.

4.       Meraih cita-cita

Menurut Abah Ihsan, ciri cita-cita yang baik adalah :

a.       Diridhoi Allah

b.      Membawa paling banyak manfaat untuk orang lain

c.       Mendatangkan maisyah (gaji) yang besar yang bisa digunakan untuk menghidupi diri da keluarga anak-anak kita nantinya.

Dari sini kita bisa ajak diskusi dari anak usia SMA ke atas, saat mereka memilih jurusan bila ingin lanjut ke jenjang pendidikan tinggi.  Tidak hanyut pada trend anak muda jaman now yang bangga jadi gamer, youtuber, tik tokers atau profesi lain yang menjanjikan cepat populer dengan banyak cuan di tangan. Anak-anak kita harus paham bahwa dibalik sebuah pencapaian prestasi ada usaha yang sungguh-sungguh dan doa.

Maka cita-cita atau prestasi yang utama adalah mendapat ridho Allah. Artinya sejalan dengan perintah dalam agama Islam.

5.       Menikah

Diskusi tentang pernikahan juga bisa mulai dibahas di usia SMA ke atas. Apa sih tujuan menikah, bagaimana kriteria memilih calon suami/ istri. Penting juga dibahas saat sudah menikah untuk mengendalikan nafsu syahwat. Bila hal ini tidak dikendalikan, manusia tak akan pernah puas dengan 1 pria/ wanita saja. Karena level  excited-nya lebih besar dari yang masih single.

 

Untuk praktik 5 hal di atas tentu banyak tantangannya ya bestie. Namun sebagai ortu yang berkualitas, kita pasti memilih capek di depan. Artinya yang mau repot mengurus “jiwa” anak.

Bukan ortu yang abal-abal yang capeknya di belakang.

Mendapati anak dengan segudang masalah, sulit diatur, kuliah tidak selesai, terjerat narkoba, dll pasti lebih capek dan repot.

Maka mari kita bersemangat mengasuh anak-anak, cari dan praktikkan ilmunya. Motivasi diri dan anak-anak kita untuk paham definisi sukses, yaitu :

a.       No pain no gain

Tak ada keberhasilan tanpa usaha

b.      99 % Usaha 1% bakat

c.       Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian

d.      Follow your passion

Passion menurut asal bahasanya =  sanggup “menderita”

Mirip dengan patient = sabar = sedang alami/ jalani penderitaan.

Karena kita hidup di dunia pasti banyak penderitaannya.

Maka harus mau capek dan mau belajar.

 

Kita baguskan prosesnya dan berserah diri pada Allah untuk hasilnya. Selalu optimis memohon pertolongan agar Allah meridhoi ikhtiar ini, sehingga bisa menjauhkan diri, anak, dan keturunan dari adzab api neraka.  Aamiin yaa Allah.

 

 

 

Saras Hijrah
Seorang ibu pembelajar yang terus memantaskan diri untuk ditolong Allah. Menggali potensi terbaik tanpa menafikan kekurangan diri untuk tetap bermanfaat di sisa usia.

Related Posts

2 komentar

  1. MasyaAllah, penting bangeet ini mba untuk q yg saat ini sedang mendidik anak usia 16 tahun. Lika liku ujiannya luar biasa, memang kita sebagai orgtua hrs haus akan ilmu dan sering bermuhasabah. Semoga Alloh ridhoi setiap ikhtiar kita. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mb Etha, pan kapan sharing ya membersamai si kakak yg 16 th

      Hapus

Posting Komentar