sarasHijra

Janji Masa Depan yang Lebih Baik, Review Buku "Moga Bunda Disayang Allah" Karya Tere Liye

4 komentar

 Bismillahirrahmanirrahim

Ini adalah kebuah kisah tentang faith. Alias keyakinan. Keyakinan akan adanya Allah. Keyakinan akan adanya janji Allah bahwa kemudahan itu akan hadir “bersama” kesulitan. Bukan “setelah” kesulitan ya. Karena maknanya akan sangat berbeda “bersama” dan “setelah.”  Meski pada praktiknya hal itu butuh ilmu dan kesabaran untuk bisa membedakan.

Kisah ini emak saras angkat dari sebuah buku lawas karya Tere Liye yang berjudul Moga Bunda Disayang Allah. Buku yang emak pinjam dari Perpustakaan Daerah Jateng ini adalah buku kesekian belas dari Tere Liye yang emak baca bawa pulang. Nagih. Selalu ingin baca tulisan-tulisannya yang “sederhana” tapi sarat hikmah dan makna. Membuat emak makin merasa, I’m nothing without Allah.

Adalah janji masa depan yang lebih baik yang menjadi ruh buku ini. Seorang pemuda yatim piatu Allah hadirkan berada dalam lingkungan yang keras namun mampu melebur dan membuat loncatan perubahan. Pas banget dengan nama tokoh utama di buku ini : Karang. Siapakah Karang sebenarnya, apa yang ia perbuat hingga bisa mengubah dunia? Dunia seorang anak yang lumpuh layu hingga bisa berjalan. Dunia seorang anak buta, bisu, tuli tapi akhirnya bisa berkomunikasi dengan lingkungannya? Ah, emak saja merinding saat mengetik ini. Dahsyatnya keyakinan penting kita genggam lewat hikmah buku ini…


Buku Moga Bunda Disayang Allah

Prolog

Prolog buku ini justru bukan bercerita tentang Karang. Tapi tentang Melati. Anak semata wayang Tuan  dan Nyonya HK. Melati berusia 6 tahun dan punya keterbatasan. Ia buta dan tuli sekaligus. Namun disabilitasnya tidak diperolehnya saat lahir. Tiga tahun terakhir setelah Melati jatuh terduduk setelah keningnya terkena fresbee. Peristiwa itu terjadi di pantai sebuah pulau peristirahatan.  Lepas dari jatuhnya, Melati kerap menabrak benda yang ia lalui di hadapannya. Dari situ dokter menyatakan anak itu buta. Lalu fungsi pendengarannya pun makin menurun beberapa hari setelah kejadian itu.

Sejak itu hidup Melati dan keluarganya berubah. Melati terhambat berkomunikasi. Ia terputus dari dunianya, masa kecil, hingga ayah ibunya pun tak bisa paham apa maksud erangan, amukan , dan tangisan Melati.  Hingga belasan dokter, tim ahli didatangkan untuk menyembuhkan Melati. Namun rupanya keberuntungan belum berpihak pada keluarga HK.

Hingga tokoh Karang dihadirkan penulis yang awalnya tak ada kaitannya dengan Melati. Seorang pemuda frustasi yang kerjaannya hanya mabuk, tidur, minum obat sakit kepala, dan marah-marah. Karang tinggal bersama ibu asuhnya di sebuah rumah tingkat di perkampungan padat penduduk di dekat pantai.


Isi Cerita

Karang dulunya bukan pemuda tanpa masa depan. Justru ia pernah sukses mendirikan taman-taman bacaan untuk anak-anak jalanan di ibukota. Karena sebenarnya ia pun lahir tanpa ayah ibu dan sempat merasakan kerasnya hidup di jalanan. Hingga ia ditampung oleh pasangan suami istri yang sayang pada  anak-anak dan mengabiskan sisa umurnya menjadi orang tua asuh. Kesuksesan orang tua asuh membesarkan anak-anak non biologisnya itu membentuk Karang punya dendam positif pada masa lalunya. Ia bertekad akan menjadikan anak-anak di sekitarnya lebih baik dari dirinya. Karang merasa perlu hadir diantara mereka. Karena masa kanak-kanak adalah sebuah peluang mewujudkan janji masa depan yang lebih baik.

Bersama teman-temannya, Karang mendongeng, menceritakan isi buku, mengajak anak-anak di taman bacaan untuk bermain dan belajar. Hingga taman bacaannya menjamur di kota itu. Ia pun terkenal mampu “menaklukan” anak-anak. Termasuk Qintan, seorang anak lumpuh layu, kakinya mengecil karena penyakit yang dideritanya. Karang “hanya” rajin menemaninya membacakan buku, memotivasi Qintan kecil lewat kisah-kisah heroik. Menjawab segala keingintahuan Qintan. Hingga terbangun kepercayaan diri anak itu untuk mau menjajal melangkah meski ia selalu kembali terjatuh. Qintan yang ceria, Qintan yang optimis dan semangat akhirnya bisa benar-benar berjalan walau hanya sebatas memutari taman bacaan.

Konflik Pertama

Tere Liye sukses membangun ketegangan saat Karang beserta para kakak di taman bacaan berikut adik-adiknya berjuang melawan takdir saat kapal yang mereka tumpangi terkena badai. Latarnya adalah saat diadakan wisata air di sebuah laut lepas. Keceriaan yang tercipta di siang hari karena menikmati pemandangan laut, ikan, dan langit biru berbalik 180 derajat menjadi musibah di perjalanan pulang. Kapal itu terbalik, semua penumpang tercebur ke laut dan muncul kepanikan dimana-mana. Anak-anak taman bacaan tak semuanya bisa berenang apalagi di tengah ombak yang mengganas. Hingga tim penyelamat datang, ada 18 anak mati tenggelam termasuk Qintan. Sisanya selamat termasuk Karang dan kakak-kakak pembina taman bacaan.

Kejadian itu menorehkan luka seisi kota hingga Karang diseret ke pengadilan karena tuduhan tak hiraukan keselamatan anak. Singkat kata, Karang bebas dari tuduhan karena itu sejatinya musibah. Memang itu musibah di luar kuasa manusia. Namun Karang terlanjur menyalahkan dirinya lebih dari apa yang pengadilan tuduhkan. Mentalnya tak kuasa menghapus bayangan 18 anak yang mati kedinginan. Frustasi, depresi dan ingin membayarnya dengan mati pula. Namun ia memilih meninggalkan taman bacaan itu termasuk menyingkirkan Kinasih, seorang yang telah jatuh hati pada pemuda itu terlepas dari musibah yang dialaminya. Jadilah Karang yang terus mengutuk dirinya dari hari ke hari selama 3 tahun terakhir.

Konflik Kedua

Kinasih yang akhirnya tau dimana Karang “bersembunyi” merekomendasikannya untuk membantu menyembuhkan Melati. Kinasih meminta Bunda, ibu Melati untuk mengirim surat pada Karang. Tentu saja Karang awalnya tak peduli hingga ibu angkatnya mencoba menengahi. Singkat cerita, Karang mau membantu Melati. Meski awalnya Karang belum merubah sikap dan penampilannya. Gondrong, bercambang, berkumis, mulut bau alkohol, dan ucapan ketus dan sarkasme.                             

Melati yang hanya bisa mengeluarkan suara “Baa…Maa” mudah sekali emosi saat tangan atau tubuhnya disentuh. Apalagi dengan perangai Karang yang kasar, Melati pun kerap mendapat perlakuan yang jauh dari definisi lembut. Hingga perilaku mabuknya sampai hari kelima belum berubah, membuat Karang mesti diusir dari kediaman Melati. Tuan HK yang memegang teguh prinsip tak boleh ada pemabuk tinggal di rumahnya tanpa ampun melarang Karang mendekati Melati apalagi tinggal di sana.              

Namun di saat pecah perang itu justru kemurahhatian Allah datang. Melati akhirnya bisa makan sendiri dengan sendok. Sebuah kemajuan setelah Karang mendidiknya dengan cara “berat” meski sebenarnya pemuda itu belum puas. Melati hanya cacat di mata dan telinganya, tapi otaknya tidak. Karang akhirnya mendapat kesempatan kedua untuk mendidik Melati tanpa sepengetahuan Tuan HK karena sedang urusan bisnis di luar negeri selama 3 pekan. Bunda HK rela merahasiakan kejadian tersebut dari suaminya  demi harapan masa depan anak satu-satunya.

Selama 21 hari itulah Karang memanfaatkan waktu terbaiknya. Hingga Allah mengizinkan Karang berubah. Ia mencukur rambut dan jambangnya dan berjanji tak menyentuh minuman keras. Ia pun melunakkan sikapnya pada penghuni rumah besar itu. Ia pun merasa, “kekuatan” itu datang lagi. Kekuatan untuk bisa mengerti jiwa dan perasaan anak-anak. Beragam cara Karang lakukan untuk mendobrak tembok komunikasi Melati dengan dunia luar. Namun hingga di injury time, upaya itu nihil. 

Hingga Karang pun bisa merasakan mengapa ada ketidakadilan Allah untuk anak sekecil Melati. Apalagi Bunda yang terus menerus diuji kesabarannya menerima kenyataan bahwa penerus keturunannya hampir tak punya masa depan.

Konflik Ketiga

Hampir saja pecah perang dunia lagi saat Tuan HK pulang satu hari lebih cepat dari rencana awal. Mendapati pemuda yang pernah diusirnya berada di meja makan bersama istri dan anaknya, langsung saja ia naik pitam. Keributan pun terjadi namun sejenak berujung ke kepanikan. Melati tak lagi berada di kursinya. Semua orang panik mencari ke semua sudut rumah. Anak berambut ikal dan bermata bulat hitam bak kelereng itu ternyata duduk di dekat air mancur taman rumah besar itu.                

Saat Bunda hendak merengkuhnya kembali masuk ke dalam rumah, Karang mencegahnya. Ia melihat ada yang berbeda dari ekspresi Melati. Saat itulah datang lagi cahaya kasih sayang Allah pada keluarga ini. Keputusasaan yang menghampiri di akhir waktu terbayar saat itu juga. Melati tersenyum bahagia saat merasakan ada aliran air melewati sela-sela jarinya. Sepertinya Melati paham betul apa yang ada di hadapannya. Sehingga ia begitu menikmati momen itu.

Karang terhenyak. Ia terlupa bahwa ada satu metode yang terlewat ia ketahui. Metode Tadoma yang menjadi pintu pembuka komunikasi si anak buta tuli itu. Bunda tak lepas haru dan tangisnya saat Karang mulai menuliskan huruf A-I-R di telapak tangan anak yang dicintainya itu.

“Ini a-i-r Melati..” Karang menamai benda sejuk itu ke Melati.

Suara Karang mulai melembut dan menyentuhkan telapak tangan Melati ke depan bibirnya. Metode Tadoma inilah yang menjadi cara Melati untuk belajar mengenali benda-benda di sekelilingnya. Termasuk wajah Karang, Bunda, dan Tuan HK. Metode ini menggunakan saraf di telapak tangan untuk mengenali benda. Lalu menyentuh bibir dan urat biacara di leher untuk mengenali tiap perbedaan benda. 

Setelah kejadian itu, tak lelah-lelahnya Melati bertanya semua hal, semua benda. Layaknya air bah yang menjebol tembok bendungan rasa ingin tahunya. Karang juga mengajarkan Melati membaca huruf Braille. Perubahan demi perubahan terjadi atas kehendak-Nya. Meski masih butuh beberapa tahun lagi untuk Melati paham semua hal namun janji masa depan telah hadir.

Epilog

Tuan HK akhirnya terbuka hatinya. Ia ikut memanggil Karang dengan sebutan "Pak Guru" seperti Salamah si asisten rumah tangga dan Mang Jun sang tukang kebun. Namun Bunda tetap memanggil pemuda itu “anakku.” Bunda juga memperbanyak koleksi buku dongeng untuk dibacakan ke Melati. Sejak saat itu, Melati menjadi anak yang manis dan penurut. 

Meski sikapnya berbalik seperti semula dan menolak ditemui saat Karang memutuskan untuk pamit dan kembali ke kota bersama Kinasih. Ada banyak anak yang butuh pula “diselamatkan” masa depannya oleh Karang. Akhirnya Melati mau menemui Karang saat gurunya pamit. Mereka saling berpelukan dan mengucapkan terima kasih dengan cara Melati.

Kini Bunda yang meneruskan jejak Karang. Bunda mengenalkan nama benda, apa fungsinya, dan lainnya. Bunda pula yang membacakan dongeng meski tak sebagus Karang sebelum buah hatinya tidur. Meski masih kata “Baa..Maa..” yang keluar dari mulut kecilnya, namun orang terdekat Melati sudah makin paham bahwa intonasi, irama, ekspresinya berbeda untuk menamai tiap benda. Termasuk malam itu, Melati seakan sudah mengucapkan kalimat yang mungkin hanya ada dalam angan dan mimpi Sang Bunda…

Moga Bunda Disayang Allah

Pesan Moral

Tere Liye banyak memasukkan pesan moral baik eksplist maupun implisit.

Pesan Eksplisit

Pesan ini tertulis jelas dalam isi buku, diantaranya :

1.       Hal yang menyakitkan di dunia bukan ketika orang lain menyalahkan diri kalian. Tapi saat kalian menyalahkan diri sendiri.

2.       Kita terlalu bebal untuk mengerti betapa Allah Maha Pemurah atas seluruh hidup dan kehidupan.


 Pesan Implisit :

1.    Sebagai umat beriman, mengakui takdir Allah baik atau buruk adalah kewajiban. Dalam kisah buku ini, Karang mestinya mengakui dan menerima takdir yang Allah tetapkan bahwa 18 anak taman bacaan wafat karena tenggelam di laut.

2.    Terus berbaik sangka pada takdir Allah berupa anak yang bisu dan tuli. Meski secara fisik tak sempurna yakinlah Allah menetapkan kelebihan di hal lainnya.

3.    Mensyukuri semua nikmat yang Allah berikan.

4.    Bersabar menerima keadaan termasuk apa yang belum kita miliki. Karena masih banyak orang lain yang nasibnya lebih buruk dari kita.

 

Catatan dari Tere Liye

Kisah buku ini terinspirasi dari Hellen Keller, wanita kelahiran Alabama Amerika yang menderita tuna rungu dan tuna netra di usia 19 bulan. Bergurukan Anne Sullivan yang sama-sama buta. Hellen Keller berhasil mendobrak keterbatasannya menjadi banyak prestasi membanggakan. Ia menulis puluhan buku, dosen, dan aktivis politik. Hidupnya menjadi inspirasi banyak orang utamanya para penyandang disabilitas.

Buku Moga Disayang Bunda juga berdasarkan Film berjudul Black (India) yang juga menceritakan kisah seorang wanita buta tuli. 


Ending

Sungguh, sebuah kisah dapat menjadi inspirasi dan sumur hikmah bagi orang-orang yang terpilih untuk bisa memahaminya. Seperti pada kisah Karang dan Melati karya Tere Liye ini semoga menjadikan kita bersyukur dan berbaik sangka atas semua ketetapan yang Allah berikan pada kita. Bahwa setiap makhluk-Nya mempunyai kesempatan dan janji masa depan yang lebih baik asal kita mau bergerak. Asal kita mau berusaha dan bertawakal untuk hasilnya. 

Semoga Allah mudahkan, aamiin

 

Saras Hijrah
Seorang ibu pembelajar yang terus memantaskan diri untuk ditolong Allah. Menggali potensi terbaik tanpa menafikan kekurangan diri untuk tetap bermanfaat di sisa usia.

Related Posts

4 komentar

  1. Keren resensinya kak, apalagi ada tambahan pesan-pesannya 👍. Belum pernah baca novelnya Tere Liye, tapi setelah baca tulisan kakak jadi pengen intip-intip nanti kalo ke toko buku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ma syaa Allah tabarakallah, Terima kasih. Btw ajak-ajak kalau ke toko buku ya kak 😍

      Hapus
  2. Ditunggu review berikutnya ya say 🥰

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh mampir di tulisan berjudul "Kak Laisa Sang Bidadari Surga yang Membasuh Jiwa", review buku Tere Liye juga "Bidadari - Bidadari Surga" semoga kakak suka 🥰

      Hapus

Posting Komentar